Atap Hijau Rss

TEKA-TEKI IMAM GHAZALI

4

Posted by admin | Posted in Tazkiyatun nafs | Posted on 07-05-2009

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya :
Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 = ” Orang tua “
Murid 2 = ” Guru “
Murid 3 = ” Teman “
Murid 4 = ” Kaum kerabat “
Imam Ghazali = ” Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI . Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, sungguh, dia memperoleh kemenangan.Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = ” Apakah yang paling jauh dari kita di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Negara China “
Murid 2 = ” Bulan “
Murid 3 = ” Matahari “
Murid 4 = ” Bintang-bintang “
Iman Ghazali = ” Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU . Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

Iman Ghazali = ” Apakah yang paling besar didunia ini ?”
Murid 1 = ” Gunung “
Murid 2 = ” Matahari “
Murid 3 = ” Bumi “
Imam Ghazali = ” Semua jawapan itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU. Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuanNya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah membiarkannya sesat? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jathiyah:23)

IMAM GHAZALI” Apakah yang paling berat di dunia? “
Murid 1 = ” Baja “
Murid 2 = ” Besi “
Murid 3 = ” Gajah “
Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH .Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya [gila kuasa] berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit,bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khuatir tidak akan melaksanakannya [berat],lalu dipikullah amanat itu oleh manusia.Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh..” (Al-Ahzab : 72 )

Imam Ghazali = ” Apakah yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ” Semua jawapan kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT . Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “

Imam Ghazali = ” Apakah yang paling tajam sekali di dunia ini? “
Murid- Murid dengan serentak menjawab = ” Pedang “
Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA . Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

Wallahualam

The Qasida Burda of Al-Busiri

1

Posted by xfahmix | Posted in Ibadah, Tazkiyatun nafs | Posted on 03-04-2009

This documentary featuring renown scholar such as Syeikh Hamza Yusuf, scholar from Cambridge University and many more were discussing about Qasida Burda (Poem of the Mantle), a poem written by scholar Imam Sharafuddin al-Busiri (d. 1296), which was an by Egyptian Sufi. The story behind the poem was interesting so keep on watching the video.

Kisah Hassan Al-Basri

7

Posted by amrullah | Posted in Tazkirah, Tazkiyatun nafs | Posted on 19-03-2009


Pada suatu hari, terjadi suatu peristiwa yang sangat membekas pada diri Hassan Al-Basri.Ditepi sungai Dajlah, Hassan Al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang wanita. Di samping mereka terdapat sebotol arak. Hassan berkata, “Alangkah jahatnya orang itu dan alangkah baiknya kalau ia seperti aku!”

Tiba-tiba beliau melihat sebuah perahu di tengah sungai perlahan-lahan tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir mati kelemasan. Dia berhasil menyelamatkan enam daripada tujuh penumpang perahu itu, kemudian ia berpaling ke arah Hassan Al-Basri seraya berkata, “Jika engkau memang lebih mulia dari saya, maka dengan nama Allah, selamatkanlah seorang lagi yang belum sempat saya tolong.Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedangkan saya telah menyelamatkan enam orang.”

Namun sayang, Hassan Al Basri tidak berhasil menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata kepadanya, “Tuan, sebenarnya wanita yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan arak. Ini hanya untuk menguji tuan”.

Hassan Al-Basri terpegun, lalu ia berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi daripada bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah pula saya dari tenggelam ke dalam kebanggaan dan kesombongan.” Orang itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan.” Semenjak hari itu, Hassan Al-Basri selalu merendahkan dirinya bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling hina.

Antara pengajaran dari kisah ini adalah:
1. Jangan berburuk sangka dengan orang lain serta memandang rendah padanya.
2. Apabila kita melihat orang lain membuat maksiat kepada Allah, jangan kita menghina orang itu serta cuba mencari keaibannya (dan jangan pula kita redha dengan perbuatannya), kerana mungkin orang itu jahil tentang perbuatannya itu sedangkan kita patut malu pada diri kita sendiri yang telah Allah kurniakan ilmu ini masih juga melakukan perkara-perkara yang Allah larang.

Dua perkara yang patut kita ingat tentang diri kita ialah:
1. Perbuatan baik orang pada kita
2. Perbuatan jahat kita pada orang lain.

Dua perkara yang patut kita lupakan ialah:
1. Kebaikan kita pada orang
2. Kejahatan orang pada kita

Wallahualam

Sometimes, I need to be a verbal ninja

16

Posted by sarahibrahim | Posted in Dakwah, Sosial, Tazkirah, Tazkiyatun nafs | Posted on 10-03-2009

You don’t want to act like a ‘verbal’ ninja. Your heart, however, kept pounding hard; you can feel the blood-rush. Before you explode, better kick the ‘fella’ responsible for the whole mess (imaginary). Gosh!! Just another day of looking at the same rubbish- and yes, I mean real dirty rubbish.

Cleanliness is much more than outward appearance. It is an all-embracing ethic of sound living. It is also a state of mind and heart that reflects our morals and worship.

Islam places great emphasis on cleanliness, in both its physical and spiritual aspects. On the physical side, Islam requires the Muslim to clean his body, his clothes, his house, and the whole community, and he is rewarded by Allah for doing so. While people generally consider cleanliness a desirable attribute, Islam insists on it, making it an indispensable fundamental of the faith. A muslim is required to be pure morally and spiritually as well as physically. Through the Qur’an and Sunnah Islam requires the sincere believer to sanitize and purify his entire way of life. In the Qur’an, Allah commends those who are accustomed to cleanliness:

“Allah loves those who turn to Him constantly and He loves those who keep themselves pure and clean.” (2: 222)

Read the rest of this entry »

Blind!

3

Posted by faimee erwan chan | Posted in Concern, Komunikasi, Sosial, Tazkirah, Tazkiyatun nafs | Posted on 07-03-2009

bismillahirrahmanirrahim, subhanallah, amma ba’d,

assalamualaikum warahmatullah to all,

as of today, let’s talk about us muslims and the things that we seem to be taking for granted. how much do we understand the implication of embracing Islam in all aspects of our lives? i guess many can utter that Islam is ad-deen, meaning a way of life but not all of us know the real meaning behind it. it’s a cliche in today’s  world. a cliche that brings no real meaning to one’s heart that is clouded by his own ignorance. blind when he sees. i so hope that all of us are at least loved by Allah enough to be pardoned from being one of those who have hearts but don’t understand with them, those who have eyes but don’t see with them, and those who have ears but listen not with them. blind indeed many muslims are as i speak today.

dear valued readers,

there will always be a group of us who will rise up to injustice and there will always be amongst us a group that strives to deliver the message of Islam to the world, muslims and non-muslims alike. how much do you think is the price of our religious brotherhood if we can only think of finding differences between ourselves. common grounds seem to falter and break just because of small disputes or clashes of ideas. blinded by our differences i say we are. even as i’m writing now and while you are reading this, differences in opinions and views will not cease to arise. does that mean that we forgo our brotherhood which is of a much bigger importance just because of our small disagreement. blind indeed we are.

alas, humans’ desires are always endless, without horizon some can say. if and only if we can channel that trait to our hearts and minds, i personally think then we will be able to save our pitiful souls. ironic at times when i ponder and reflect on the matters happening around me, wars here and there, israelis killing palestinians and otherwise. they share a common blood running in their veins from our beloved prophet abraham and all mankind from adam and eve peace be upon all of them. yet, we fight and so true are Allah’s words in suratul baqarah, verse 36: “Then the Satan made them slip therefrom (Paradise), and got them out from that in which they were, We said: ‘Go you down, all, with enmity between yourselves. On Earth will be a dwelling place for you and an enjoyment for a time.’”

okay, that’s a macroscopic view. let’s scale down by a number of degrees to ourselves and our surroundings. how much as of today you look into the mirror and see only yourself and no one else in the reflection? of course if you’re alone, you’ll be only looking back at you yourself. try for once, look at yourself from another perspective. look at you and trace back through the history of your own self, stop not there but go farther beyond your ancestry to the days you think Allah created our father Adam of earth, still soulless. Imagine ok. now, question ourselves: what have i done so far that creates enmity between my brothers and me? i was once made of earth and Allah honoured me above Allah’s angels. my, oh my, aren’t we too arrogant that we dare to go against Allah’s order: “The believers are nothing else than brothers (in Islam), so make reconciliation between your brothers, and fear Allah, that you may receive mercy.”, suratul hujurat, verse 10. if we think we are right, the other part also does. look back at the ayah, remember above all our differences, we remain intact, inseparable by a bond much holier and purer than ourselves. remember that Allah ask us to clear our disputes because of the mere differences we have and put Allah first in mind, fearing Allah enough to conquer our ego and hope for the best as much for our brothers as we hope for ourselves. you do not believe till you love for your brother what you love for yourself.

i call upon all of us to ponder upon the message i’m trying to convey today and start to think more deeply while we are living our lives and interacting with others, lest we may cause trouble and therefore, invite Allah’s anger upon us. Oh Allah, grant us your love and redho for we seek nothing else except for your affection. grant us iman for only then we can see with the eyes you gave us and be blind not.

wallahua’lam. ma’assalamah. till next time.

Kisah Cintan-Cintan di Atap Hijau

12

Posted by admin | Posted in Dakwah, Fikh, Sosial, Tazkirah, Tazkiyatun nafs | Posted on 02-03-2009

Masih adakah redho Allah dalam percintaan kita?


“ akhi, jangan lupa pagi esok bangun qiamullail ya” , “ukhti, kalau boleh berilah nasihat-nasihat atau motivasi pada ana” , “ana uhibbuka fillah” , “ana uhibbuki fillah” , “ salam,akhi tak masuk kelas ke hari nih?” , “mudah-mudahan ukhwah kita dipelihara Allah” …bla..bla…..

Biasa dengar tak ayat-ayat ‘Islamic’ diatas? Kalau tak biasa dengar, cuba baca berulang kali sambil pejam mata dan ingat baik-baik dimana, siapa dan kepada siapa ayat-ayat ini diucapkan.

Read the rest of this entry »

air tangan orang yg tidak solat

4

Posted by admin | Posted in Tazkirah, Tazkiyatun nafs | Posted on 07-04-2008

Patutlah kita masing2 kepala batu & degil…suka sangat makan roti canai kat mamak…tak sembahyang tu satu hal…ntah2 mamak tu hindu….lagi parahh… Semua orang tahu bahawa kalau meninggalkan solat tu, adalah dosa besar, dan malahan lebih hina drpd khinzir..Betapa hinanya kita kalau meninggalkan solat spt yg dikisahkan pd zaman Nabi Musa A. S.


Begini kisahnya…pada zaman Nabi Musa, ada seorang lelaki yg sudah berumahtangga , dia tak de zuriat lalu, terdetik dlm hati dia (nazar), “kalau aku dpt anak, aku akan minum air kencing anjing hitam. ” Nak dijadikan cerita, Allah pun kurniakan isteri si lelaki tadi pun hamil dan melahirkan anak. Bila dah dpt anak, laki ni pun runsing… Dia dah nazar nak kena minum air kencing anjing hitam. Syariat pd zaman Nabi Musa berbeza dgn syariat yg turun utk umat Nabi Muhammad. Kalau umat Nabi Muhammad, nazar benda yg haram, maka tak payah buat, tapi kena denda(dam) atau sedekah..
Read the rest of this entry »

youtube AJataphijau
Ataphijau Facebook Group