Atap Hijau Rss

Fenomena Memperolok-olokkan Agama dan Cara Mengatasinya

3

Posted by Saladin Safi | Posted in Akhlak, Akidah, Concern, Sosial, Tazkiyatun nafs | Posted on 24-11-2009

Kaaba at night

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Firman Allah S.W.T.:

1

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang yang beriman.” (Maksud Surah al-Baqarah (2):212).

Read the rest of this entry »

Bersyukurkah Aku???

1

Posted by jundullah perkasa | Posted in Tazkiyatun nafs | Posted on 20-11-2009

Nikmat Tuhan tidak pernah putus-putus,

Bagaikan air sungai yang mengalir tanpa henti,

Tidak menghiraukan batu-batu yang memecahkannya,

Tidak peduli pada sisa-sisa toksik yang mencemarkannya,

Dan tidak pula berpaling pada suruhan Yang Maha Pencipta..

Read the rest of this entry »

The Real Meaning of Shahadatayn

0

Posted by faimee erwan chan | Posted in Akidah, Al-Quran, Tazkiyatun nafs | Posted on 16-11-2009

Bismillahirrahmanirrahim. Subhanallah. Amma ba’d. Salam to all.

‘Ashhadu alla ilaha illallah, wa ashhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh’ = i testify that there is no God except for Allah and i testify that Muhammad is Allah’s messenger.

Read the rest of this entry »

Our Life Is Like A Pencil

10

Posted by hikari189 | Posted in Akhlak, Motivasi, Tazkiyatun nafs | Posted on 15-11-2009

Our Life Is Like A Pencil

Read the rest of this entry »

Aku Bukan Orang Suci

0

Posted by Nur Islam | Posted in Akhlak, Dakwah, Tazkiyatun nafs | Posted on 19-08-2009

Assalamualaikum wbt..

Firman Allah :

“Katakanlah : Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengampuni lagi Maha Penyayang”
(Az-Zumar : 53)

Wahai kawan-kawan sekalian, aku ini bukan orang suci..aku ini selalu menzalimi diri sendiri dengan maksiat-maksiat dan perkara-perkara yang melampaui batas..tetapi aku masih mengharapkan Rahmat dan Hidayah Allah supaya menunjukki aku Jalan yang Lurus..Walau sezalim mana aku melampaui batas terhadap diri sendiri, aku mohon supaya janganlah sekali-kali aku berputus asa dari Rahmat Allah..Hendaklah aku sentiasa berdoa agar Allah akan mencurahkan Rahmat-Nya buatku..Walau setinggi gunung bahu aku membebani dosa, aku tetap mahu terus berharap Rahmat-Mu..Walau melangit kezaliman yang aku lakukan pada diriku, aku tetap mahu terus berharap Rahmat-Mu..kerana Engkau telah berjanji untuk menganugerahkan Rahmat-Mu padaku sekiranya aku terus Berharap dan kembali pada-Mu

Iblis pernah berdialog bersama Nabi Yahya bin Zakaria a.s dimana Nabi Yahya menyuruh iblis menceritakan tentang keadaan anak Adam. Iblis berkata ” Disisi kami mereka itu ada 3 macam”

Pertama : Mereka paling menyusahkan kami. Kami telah berusaha menggodanya sehingga kami berhasil, akan tetapi selepas itu mereka beristighfar serta bertaubat sehingga rosaklah semua yang telah kami perolehi darinya. Kemudian setelah itu kami berusaha untuk menggodanya lagi, akan tetapi setelah itu dia melakukan hal yang sama ( beristighfar dan bertaubat ). Walau bagaimanapun kami tidak berputus asa, akan tetapi kami pun tidak pernah berhasil, sehingga kami menjadi letih

Kedua : Mereka berada di tangan kami seakan-akan seperti bola yang dimain-main oleh anak-anak kamu, kami mempermainkan mereka sesuka hati kami, kerana kami telah benar-benar berhasil menguasa diri mereka.

Ketiga : Mereka yang seperti dirimu (wahai Yahya), sentiasa terpelihara, sehingga kami tidak dapat sedikitpun berbuat apa-apa.

*Diriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad bin Ubaid yg meriwayatkan dari Wahib bin Al-Ird*

Mungkin aku tidak mampu menjadi org golongan ke-3 tetapi aku boleh memilih untuk menjadi org golongan ke-2 atau yg pertama. Pilihan di tangan aku sendiri. Allah memberi pilihan dan ruang ditanganku untuk memilih. Jika aku memilih untuk menjadi golongan yang pertama, alangkah untungnya aku. Jika aku memilih menjadi golongan ke-2, owh buduhnya aku..Iblis pun mungkin bosan dengan aku yang lemah dan mudah digoda.
maka

“Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah (ingkar) itu, serta memperbaiki keburukan mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani”
(Ali-Imran : 89)

Aku ini sentiasa melakukan maksiat yang melampaui batas terhadap Allah, diri sendiri dan orang sekeliling, tetapi mohonku agar aku tidak pernah Berhenti Berharap dari Rahmat-Mu. Disaat aku merasakan aku benar-benar melampaui batas dan mezalimi serta menganiya diri sendiri, hanya pada-Mu aku kembali mengharapkan Rahmat dan Petunjuk. Wahai Tuhan yang memegang janji pada Kalam-Nya, janganlah Engkau berpaling dariku tatkala aku kembali kepada-Mu. Anugerahkanlah Rahmat-Mu buatku dan sahabat-sahabatku yang senantiasa melampaui batas ini. Sentiasalah berharap Rahmat dari Tuhanmu agar kita tergolong bersama orang-orang yang diberi Hidayah.

Aku mengutip Dosa

0

Posted by Nur Islam | Posted in Akhlak, Akidah, Tazkiyatun nafs | Posted on 14-07-2009

 

 

Aku mengutip Dosa

(pesanan buat diri yang alpa)

 

Kaki melangkah, tangan berarak

Sambil diri mengutip dosa,

Menempa hidup penuh sia,

Hingga kelak menjadi binasa,

 

Mata memandang, kelopak dipejam,

Sambil diri mengutip dosa,

Aku lupa ajal ada,

Tanpa disangka dipanggil tiba

 

Telinga mendengar, deria merasa,

Sambil diri mengutip dosa,

Meracun fikiran tanpa makna,

Meniup dengki hasad sengketa

 

Akal meneka, hati bercinta,

Sambil diri mengutip dosa, ,

Syurga Cinta impian sukma,

Bisikan Syaitan sakar madunya

 

Lidah berkata, bibir berbicara,

Sambil diri mengutip dosa,

Lidah yang sama, Bibir yang sama,

Mengucap Syahadah mencipta Dusta

 

Diri gemar mengutip dosa,

Mencampak pahala entah kemana,

Nanti timbang berat padahnya,

Neraka Jahanam membakar selamanya


The Dangers of Narrow-Mindedness

0

Posted by xfahmix | Posted in Akhlak, Tazkirah, Tazkiyatun nafs | Posted on 13-07-2009

Narrow-mindedness is defined as lacking tolerance or not having the mental faculty to see beyond the superficial and recognize the underlying truth. Currently, this tendency appears to be widespread in all segments of Muslim communities.

The primary reason for this deplorable condition is ignorance, the inability to recognize this deficiency and to take corrective action. This situation is further aggravated if the ignorant person considers himself to be the epitome of wisdom, and if, he is in a leadership or a highly visible position, he can cause unnecessary harm to a family, a community or a an entire nation.

Absence of insight can also result in narrow-mindedness by having a negative effect on one’s thought processes. Insight is a rare virtue, and quite different from ignorance. A person who lacks insight may possess some knowledge, but derives no benefit from it due to a lack of analytical skills while someone with insight assesses his or her knowledge of a situation and then selects and uses its relevant parts. Through insight, they are able to see what others may not. Ibnul Qayyim, the famous Islamic scholar and author, said: “One person may read a text and learn one or two lessons from it, while another may learn one or two hundred.”

A rigidly traditional individual’s perceptivity, like that of a captive frog in a deep well, is able to function only within narrow parameters. He does not realize that there are boundless vistas of knowledge beyond the scope of the well; therefore, his mental and intellectual evolution remains stunted. He is unable to take advantage of the knowledge available beyond his limited horizon.

Blind imitation creates another obstacle to one’s intellectual growth. The two world wars of the past century are the perfect examples of this disability that can allow ruthless political or religious leaders to manipulate the minds of people who are unable to form their own objective view.

Some individuals habitually look at things from one angle and accept them as actual facts without thinking that there may be a different side to the issue, or that reality may actually be quite different from appearance. In the following verse, Allah points out that the appearance of the hypocrites may not be a true indication of their reality: “And when you see them, you like their appearance, but when they speak and you listen to them, they seem worthless” … and then He goes on to give this warning: “They are the enemy, so be warned of them. The curse of Allah be upon them, how they are perverted.” [63:4]

Furthermore, some people are impressed by quantity at the expense of quality. Referring to the battle of Hunain, Allah says: “On the day of Hunain, your numbers impressed you but did not benefit you.” But, “If there be amongst you twenty who show fortitude, they will defeat two hundred.” This does not, of course, mean that appearances are to be completely disregarded or that quantity is totally irrelevant. These fundamentals should not be valued in isolation, but should be understood through insight and common sense.

A failure to prioritize or differentiate wrong from right often leads people to lose sight of the broader picture. Often people will focus on the immediate and disregard the potential disastrous effects of an action further down the road. Along with ignorance, narrow-mindedness and, of course, a lack of insight, these gaps usually prove detrimental to that individual’s future.

By: Ahmad as-Sowayyan
Source: a2youth.com

youtube AJataphijau
Ataphijau Facebook Group