Posted by Nur Islam | Posted in Akhlak, Dakwah, Tazkiyatun nafs | Posted on 19-08-2009
Assalamualaikum wbt..
Firman Allah :
“Katakanlah : Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengampuni lagi Maha Penyayang”
(Az-Zumar : 53)
Wahai kawan-kawan sekalian, aku ini bukan orang suci..aku ini selalu menzalimi diri sendiri dengan maksiat-maksiat dan perkara-perkara yang melampaui batas..tetapi aku masih mengharapkan Rahmat dan Hidayah Allah supaya menunjukki aku Jalan yang Lurus..Walau sezalim mana aku melampaui batas terhadap diri sendiri, aku mohon supaya janganlah sekali-kali aku berputus asa dari Rahmat Allah..Hendaklah aku sentiasa berdoa agar Allah akan mencurahkan Rahmat-Nya buatku..Walau setinggi gunung bahu aku membebani dosa, aku tetap mahu terus berharap Rahmat-Mu..Walau melangit kezaliman yang aku lakukan pada diriku, aku tetap mahu terus berharap Rahmat-Mu..kerana Engkau telah berjanji untuk menganugerahkan Rahmat-Mu padaku sekiranya aku terus Berharap dan kembali pada-Mu
Iblis pernah berdialog bersama Nabi Yahya bin Zakaria a.s dimana Nabi Yahya menyuruh iblis menceritakan tentang keadaan anak Adam. Iblis berkata ” Disisi kami mereka itu ada 3 macam”
Pertama : Mereka paling menyusahkan kami. Kami telah berusaha menggodanya sehingga kami berhasil, akan tetapi selepas itu mereka beristighfar serta bertaubat sehingga rosaklah semua yang telah kami perolehi darinya. Kemudian setelah itu kami berusaha untuk menggodanya lagi, akan tetapi setelah itu dia melakukan hal yang sama ( beristighfar dan bertaubat ). Walau bagaimanapun kami tidak berputus asa, akan tetapi kami pun tidak pernah berhasil, sehingga kami menjadi letih
Kedua : Mereka berada di tangan kami seakan-akan seperti bola yang dimain-main oleh anak-anak kamu, kami mempermainkan mereka sesuka hati kami, kerana kami telah benar-benar berhasil menguasa diri mereka.
Ketiga : Mereka yang seperti dirimu (wahai Yahya), sentiasa terpelihara, sehingga kami tidak dapat sedikitpun berbuat apa-apa.
*Diriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad bin Ubaid yg meriwayatkan dari Wahib bin Al-Ird*
Mungkin aku tidak mampu menjadi org golongan ke-3 tetapi aku boleh memilih untuk menjadi org golongan ke-2 atau yg pertama. Pilihan di tangan aku sendiri. Allah memberi pilihan dan ruang ditanganku untuk memilih. Jika aku memilih untuk menjadi golongan yang pertama, alangkah untungnya aku. Jika aku memilih menjadi golongan ke-2, owh buduhnya aku..Iblis pun mungkin bosan dengan aku yang lemah dan mudah digoda.
maka
“Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah (ingkar) itu, serta memperbaiki keburukan mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani”
(Ali-Imran : 89)
Aku ini sentiasa melakukan maksiat yang melampaui batas terhadap Allah, diri sendiri dan orang sekeliling, tetapi mohonku agar aku tidak pernah Berhenti Berharap dari Rahmat-Mu. Disaat aku merasakan aku benar-benar melampaui batas dan mezalimi serta menganiya diri sendiri, hanya pada-Mu aku kembali mengharapkan Rahmat dan Petunjuk. Wahai Tuhan yang memegang janji pada Kalam-Nya, janganlah Engkau berpaling dariku tatkala aku kembali kepada-Mu. Anugerahkanlah Rahmat-Mu buatku dan sahabat-sahabatku yang senantiasa melampaui batas ini. Sentiasalah berharap Rahmat dari Tuhanmu agar kita tergolong bersama orang-orang yang diberi Hidayah.
Posted by Nur Islam | Posted in Akhlak, Akidah, Tazkiyatun nafs | Posted on 14-07-2009
Aku mengutip Dosa
(pesanan buat diri yang alpa)
Kaki melangkah, tangan berarak
Sambil diri mengutip dosa,
Menempa hidup penuh sia,
Hingga kelak menjadi binasa,
Mata memandang, kelopak dipejam,
Sambil diri mengutip dosa,
Aku lupa ajal ada,
Tanpa disangka dipanggil tiba
Telinga mendengar, deria merasa,
Sambil diri mengutip dosa,
Meracun fikiran tanpa makna,
Meniup dengki hasad sengketa
Akal meneka, hati bercinta,
Sambil diri mengutip dosa, ,
Syurga Cinta impian sukma,
Bisikan Syaitan sakar madunya
Lidah berkata, bibir berbicara,
Sambil diri mengutip dosa,
Lidah yang sama, Bibir yang sama,
Mengucap Syahadah mencipta Dusta
Diri gemar mengutip dosa,
Mencampak pahala entah kemana,
Nanti timbang berat padahnya,
Neraka Jahanam membakar selamanya
Posted by xfahmix | Posted in Akhlak, Tazkirah, Tazkiyatun nafs | Posted on 13-07-2009
Narrow-mindedness is defined as lacking tolerance or not having the mental faculty to see beyond the superficial and recognize the underlying truth. Currently, this tendency appears to be widespread in all segments of Muslim communities.
The primary reason for this deplorable condition is ignorance, the inability to recognize this deficiency and to take corrective action. This situation is further aggravated if the ignorant person considers himself to be the epitome of wisdom, and if, he is in a leadership or a highly visible position, he can cause unnecessary harm to a family, a community or a an entire nation.
Absence of insight can also result in narrow-mindedness by having a negative effect on one’s thought processes. Insight is a rare virtue, and quite different from ignorance. A person who lacks insight may possess some knowledge, but derives no benefit from it due to a lack of analytical skills while someone with insight assesses his or her knowledge of a situation and then selects and uses its relevant parts. Through insight, they are able to see what others may not. Ibnul Qayyim, the famous Islamic scholar and author, said: “One person may read a text and learn one or two lessons from it, while another may learn one or two hundred.”
A rigidly traditional individual’s perceptivity, like that of a captive frog in a deep well, is able to function only within narrow parameters. He does not realize that there are boundless vistas of knowledge beyond the scope of the well; therefore, his mental and intellectual evolution remains stunted. He is unable to take advantage of the knowledge available beyond his limited horizon.
Blind imitation creates another obstacle to one’s intellectual growth. The two world wars of the past century are the perfect examples of this disability that can allow ruthless political or religious leaders to manipulate the minds of people who are unable to form their own objective view.
Some individuals habitually look at things from one angle and accept them as actual facts without thinking that there may be a different side to the issue, or that reality may actually be quite different from appearance. In the following verse, Allah points out that the appearance of the hypocrites may not be a true indication of their reality: “And when you see them, you like their appearance, but when they speak and you listen to them, they seem worthless” … and then He goes on to give this warning: “They are the enemy, so be warned of them. The curse of Allah be upon them, how they are perverted.” [63:4]
Furthermore, some people are impressed by quantity at the expense of quality. Referring to the battle of Hunain, Allah says: “On the day of Hunain, your numbers impressed you but did not benefit you.” But, “If there be amongst you twenty who show fortitude, they will defeat two hundred.” This does not, of course, mean that appearances are to be completely disregarded or that quantity is totally irrelevant. These fundamentals should not be valued in isolation, but should be understood through insight and common sense.
A failure to prioritize or differentiate wrong from right often leads people to lose sight of the broader picture. Often people will focus on the immediate and disregard the potential disastrous effects of an action further down the road. Along with ignorance, narrow-mindedness and, of course, a lack of insight, these gaps usually prove detrimental to that individual’s future.
By: Ahmad as-Sowayyan
Source: a2youth.com
Posted by admin | Posted in Tazkiyatun nafs | Posted on 07-05-2009
Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya :
Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 = ” Orang tua “
Murid 2 = ” Guru “
Murid 3 = ” Teman “
Murid 4 = ” Kaum kerabat “
Imam Ghazali = ” Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI . Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, sungguh, dia memperoleh kemenangan.Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali-Imran :185).
Imam Ghazali = ” Apakah yang paling jauh dari kita di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Negara China “
Murid 2 = ” Bulan “
Murid 3 = ” Matahari “
Murid 4 = ” Bintang-bintang “
Iman Ghazali = ” Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU . Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.
Iman Ghazali = ” Apakah yang paling besar didunia ini ?”
Murid 1 = ” Gunung “
Murid 2 = ” Matahari “
Murid 3 = ” Bumi “
Imam Ghazali = ” Semua jawapan itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU. Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuanNya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah membiarkannya sesat? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jathiyah:23)
IMAM GHAZALI” Apakah yang paling berat di dunia? “
Murid 1 = ” Baja “
Murid 2 = ” Besi “
Murid 3 = ” Gajah “
Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH .Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya [gila kuasa] berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit,bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khuatir tidak akan melaksanakannya [berat],lalu dipikullah amanat itu oleh manusia.Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh..” (Al-Ahzab : 72 )
Imam Ghazali = ” Apakah yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ” Semua jawapan kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT . Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “
Imam Ghazali = ” Apakah yang paling tajam sekali di dunia ini? “
Murid- Murid dengan serentak menjawab = ” Pedang “
Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA . Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “
Wallahualam
Posted by xfahmix | Posted in Ibadah, Tazkiyatun nafs | Posted on 03-04-2009
This documentary featuring renown scholar such as Syeikh Hamza Yusuf, scholar from Cambridge University and many more were discussing about Qasida Burda (Poem of the Mantle), a poem written by scholar Imam Sharafuddin al-Busiri (d. 1296), which was an by Egyptian Sufi. The story behind the poem was interesting so keep on watching the video.
Posted by amrullah | Posted in Tazkirah, Tazkiyatun nafs | Posted on 19-03-2009

Pada suatu hari, terjadi suatu peristiwa yang sangat membekas pada diri Hassan Al-Basri.Ditepi sungai Dajlah, Hassan Al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang wanita. Di samping mereka terdapat sebotol arak. Hassan berkata, “Alangkah jahatnya orang itu dan alangkah baiknya kalau ia seperti aku!”
Tiba-tiba beliau melihat sebuah perahu di tengah sungai perlahan-lahan tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir mati kelemasan. Dia berhasil menyelamatkan enam daripada tujuh penumpang perahu itu, kemudian ia berpaling ke arah Hassan Al-Basri seraya berkata, “Jika engkau memang lebih mulia dari saya, maka dengan nama Allah, selamatkanlah seorang lagi yang belum sempat saya tolong.Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedangkan saya telah menyelamatkan enam orang.”
Namun sayang, Hassan Al Basri tidak berhasil menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata kepadanya, “Tuan, sebenarnya wanita yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan arak. Ini hanya untuk menguji tuan”.
Hassan Al-Basri terpegun, lalu ia berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi daripada bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah pula saya dari tenggelam ke dalam kebanggaan dan kesombongan.” Orang itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan.” Semenjak hari itu, Hassan Al-Basri selalu merendahkan dirinya bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling hina.
Antara pengajaran dari kisah ini adalah:
1. Jangan berburuk sangka dengan orang lain serta memandang rendah padanya.
2. Apabila kita melihat orang lain membuat maksiat kepada Allah, jangan kita menghina orang itu serta cuba mencari keaibannya (dan jangan pula kita redha dengan perbuatannya), kerana mungkin orang itu jahil tentang perbuatannya itu sedangkan kita patut malu pada diri kita sendiri yang telah Allah kurniakan ilmu ini masih juga melakukan perkara-perkara yang Allah larang.
Dua perkara yang patut kita ingat tentang diri kita ialah:
1. Perbuatan baik orang pada kita
2. Perbuatan jahat kita pada orang lain.
Dua perkara yang patut kita lupakan ialah:
1. Kebaikan kita pada orang
2. Kejahatan orang pada kita
Wallahualam




